Melihat Sekilas Sekolah Kejuruan di Jerman:
Sekolah yang Melahirkan Alumni Bergengsi, Sarat Prestasi dan Berkemampuan Tinggi
Oleh : Roni Susman
Tulisan ini merupakan catatan kecil penulis selama tinggal di Jerman dalam rangka studi Regional Economic Development (RED). Latar belakang tulisan ini hanyalah berbagi pengalaman dari sebuah negara yang dalam perjalanannya diakui dunia akan teknologi, ekonomi maupun sumber daya manusia yang tinggi dan kompetitif. Hal yang menarik adalah bagaimana sistem pendidikan tersebut menunjang terhadap penyediaan tenaga ahli yang siap bekerja maupun tenaga ahli yang dapat membuka lapangan pekerjaan.
Sekilas Sejarah
Jerman adalah negara yang secara geografis tidak memiliki sumber daya alam melimpah dibanding negara di dataran Eropa lainnya, bahkan sejarah mencatat Jerman negara yang terpuruk secara ekonomi maupun militer selama kurun 10 tahun pasca perang dunia ke-2 dengan tingkat inflasi mencapai 320% dan pertumbuhan ekonomi -21% (sumber: wirtschaftjournal.de), sebuah kondisi yang sulit dimana tidak ada sumber daya alam untuk proses recovery pasca perang namun disisi lain masyarakat harus makan dan hidup setelah masa sulit di jaman NAZI. Perpecahan negara yang sejak berabad lampau menjadi kekuatan tunggal di dataran Eropa, karena perbedaan ideologi mengharuskan Jerman terbagi menjadi dua bagian Deutschen Demokratischen Republik (DDR)di bagian Timur dimana komunis Uni Sovyet menjadi penguasa tunggal serta Bundesrepublik Deutschland (BRD) dibagian Barat yang dikuasai oleh tiga negara, Perancis, Inggris dan Amerika.
Sulitnya pasca perang diperburuk oleh kondisi internal akibat isolasi yang dilakukan Jerman terutama di negara bagian timur yang sangat protektif terhadap perkembangan teknologi dan budaya melahirkan kodisi sosial dan kemiskinan yang lebih buruk dibandingkan dengan Jerman Barat, Ditandai dengan runtuhnya Tembok Berlin (Mauer) pada tanggal 9 Nopember 1989 menjadi harapan baru bergabungnya kembali dua „negara“ yang memiliki tradisi teknologi tinggi. Puncaknya pada 3 Oktober 1990 Jerman bersatu kembali setelah lebih dari seabad lalu tepatnya 1871 Otto von Bishmarck menyatukan dua kekaisaran Jerman (sumber: wikipedia.de).
Dalam dekade ini sistem pendidikan keahlian (kejuruan di Indonesia) seperti sekolah keahlian (hochschule) serta Politeknik (fachhochschule) mulai dibuka di banyak negara bagian (Bundeslander). Dengan menggandeng beberapa universitas ternama seperti Aachen Universität serta Technische Universitäat München untuk sektor teknologi dan engineering serta Humboldt Universität dan Heidelberg Universität untuk ekonomi dan banyak lagi lainnya. Tujuan dari dibangunnya sistem pendidikan ini adalah untuk mempercepat pembangunan dan recovery pasca perang serta mengejar ketertinggalan dengan Negara Eropa lain. Sistem yang menarik dibangun secara sunguh-sungguh dimana pemerintah menyediakan fasilitas praktek dan peralatan profesi, disisi lain tingginya minat para generasi muda memasuki sekolah keahlian dimana pada tahun 1990 hampir 60% pelajar lulusan sekundar schule setingkat SMP di seluruh Jerman masuk ke sekolah-sekolah kejuruan bidang teknik, akuntasi, manajemen, perhotelan dan perbengkelan.
Sistem Pendidikan Kejuruan (Fachschule dan Fachgymnasium)
Pendidikan kejuruan atau keahlian di Jerman harus ditempuh selama 2 hingga 4 tahun sesuai dengan jenis keahlian (fach) yang diambil, pada umumnya bidang keteknikan lebih lama daripada bidang sosial atau manajemen dimana hampir 1 hingga 2 tahun dihabiskan sebagai praktikan (Ausbildung), tidak ada persyaratan khusus yang mengharuskan siswa untuk bersekolah di sekolah keahlian, hanya motivasi dan insentif yang tinggi serta ketersediaan lapangan kerja yang menyerap lulusan menjadi motivasi lain bagi para siswa bersekolah di sekolah tersebut. Pelajar bisa memilih sekolah tersebut mengingat pada tingkat sekolah lanjutan setingkat SMP (sekundar schule) telah diarahkan pada hal-hal yang berbau innovasi dan teknologi dengan lebih dulu dikenalkan pada hal yang tidak teoritikal ini sangat menarik karena pada umumnya rumitnya teori hanya akan membuat bosan dan enggan untuk mempelajari hal baru. Manakala tidak ada ketertarikan akan sangat sulit untuk mengarahkan anak di usia 14-17 mempelajari sesuatu yang rumit.
Jam praktek para pelajar lebih banyak dibandingkan dengan sistem SMK yang ada di Indonesia yang rata-rata 2-3 jam per hari (sumber: Silabus SMK, Depdiknas) dampak positif adalah banyaknya waktu mereka untuk semakin mendalami bidang yang mereka minati secara lebih optimal ini juga dipengaruhi oleh jam sekolah di Jerman yang relatif lebih lama. Di Jerman guru (lehrer) mengajarkan kaidah dan teori tentang suatu cara kerja mesin atau apapun pada saat persiapan praktek, secara umum jam khusus teori hanya 2 hari dalam 5 hari artinya masa praktek dialokasikan dalam waktu yang lebih lama. Filosofi yang digunakan adalah teori lebih diperdalam ketika siswa memperdalam secara keilmuan di tingkat universitas atau diplom, dan pada fachshule yang ditekankan adalah kemampuan operasional, penguasaan dan reparasi (perbaikan) equipments industri.
Hal lain yang berbeda adalah kompetisi teknologi yang dilakukan antar fachschule dalam merancang mesin atau alat industri yang sangat sederhana sebagai contoh alat bantu pembuka kemasan makanan kaleng. Pembiayaan disediakan oleh sekolah sebagai dana pengembangan teknologi dan secara kuantiti jumlahnya relatif kecil mengingat peralatan yang dilombakan hanya untuk mesin dan peralatan berteknologi sederhana. Hal ini menjadi trigger munculnya innovasi dan keahlian baru bagi para siswa dalam menjalankan atau mengoperasikan sebuah peralatan sehingga kondisi ini sangat mendorong munculnya jiwa kemandirian. Lebih jauh akan berdampak terhadap kemampuan riset dan membangun teknologi baru pada masing-masing individu yang sangat diperlukan dalam membuka usaha secara mandiri.
Lulusan dan Dunia Industri
Hal penting dalam penyelenggaraan sekolah keahlian di Jerman adalah kuatnya adanya kemitraan yang bisa menyerap lulusan serta menjadi laboratorium lapangan bagi siswa selama menempuh studi. Pemerintah lokal (Bundeslander) membuat peraturan sebagai bagian dari perijinan investasi dimana industri harus dapat menyerap para siswa fachschule (SMK) yang akan melakukan kerja praktek secara profesional. Dampak positif adalah banyaknya siswa praktikan yang akhirnya bekerja secara permanen sebagai hasil praktikum selama 6 hingga 2 tahun lamanya. Secara sederhana konsep kemitraan dengan dunia industri telah berjalan walaupun dengan kualitas yang masih terbatas. Contoh sederhana praktek lapangan adalah banyaknya siswa jurusan otomotif yang melakukan praktikum di beberapa bengkel maupun industri besar di Kabupaten Subang.
Lulusan fachschule yang umumnya memiliki kemampuan keteknikan lebih baik dibanding lulusan universitas sangat mudah diserap oleh kalangan industri, perusahaan besar seperti Daimler Benz, BMW AG, Opel, Audi, Volkswagen, Siemens, BASF, Lufthansa, Deutsch Bahn, IBM dan Bayer bahkan telah menyerap lebih dari 70% lulusan fachschule dari berbagai bidang, sisanya diserap perusahaan kecil atau bekerja secara mandiri. Artinya secara ekonomi, lulusan fachschule lebih memiliki daya saing dibanding lulusan sekolah setara. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan terhadap teknologi dan permesinan yang memang menjadi kekuatan di negara maju seperti Jerman.
Strategi Pengembangan Sekolah Kejuruan di Kabupaten Subang (Belajar Dari Pengalaman Jerman)
Dalam bagian ini tidaklah mudah meniru sistem yang dikembangkan Jerman pada kondisi di Kabupaten Subang, secara historis masyarakat Jerman dibesarkan pada kultur industri dan teknologi tinggi, sedangkan masyarakat tradisional kita lebih mengenal pertanian sebagai basis budaya dan ekonomi. Selain itu terbatasnya kemampuan pemerintah dalam menyediakan sekolah keahlian berkualitas tinggi dengan dilengkapi peralatan pendukung yang sesuai dengan kebutuhan industri pun masih menjadi kendala dan tarik ulur kepentingan baik di Pusat maupun di daerah. Penulis melihat beberapa strategi yang lebih „membumi“ untuk dikembangkan dalam meningkatkan keberadaan sekolah kejuruan serta arah jangka panjang pengembangan visi misi Kabupaten Subang sebagai daerah industri yang berkorelasi terhadap pembangunan sektor pendidikan, antara lain:
Pengembangan SMK Berbasis Kegiatan Ekonomi, seiring dengan gencarnya program Pemerintah Pusat dalam pengembangan SMK yang juga didukung oleh kebijakan ditingkat daerah akan lebih optimal apabila strategi pendirian sekolah kejuruan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Subang berbasis pada kegiatan ekonomi setempat. Sebagai contoh di Kecamatan Blanakan dapat di buka SMK bidang Perikanan atau Pengolahan Produk Perikanan dan Pertanian, mengingat kultur masyarakat setempat tidak asing terhadap kegiatan dua sektor tersebut selain itu tingkat penyerapan ataupun transfer teknologi dapat langsung di rasakan masyarakat sekitar sekolah. Balai Penelitian Sang Hyang Seri dapat menjadi laboratorium lapangan untuk kegiatan tersebut. Begitu pula SMK sejenis di daerah lain di wilayah Selatan maupun Barat dapat mengadopsi metode yang sama sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah. Bagi pemerintah daerah (BKPMD) adanya potensi tenaga kerja yang memiliki keahlian spesifik dapat menjadi competitive advantage yang dapat menarik investasi di industri sector agrobisnis.
Beasiswa Keahlian CSR, pemerintah daerah sesuai amanat UU-Investasi memiliki kewenangan menggunakan instrumen CSR yang dialokasikan industri (Corporate Social Responsibility) dari 54 industri yang ada di Kabupaten Subang sebagai dana pengembangan sumber daya industri. Skema keuangan dapat berupa rekening yang terkelola oleh bagian tertentu (Bagian Ekonomi) atau Dinas Sosial untuk pengembangan sekolah kejuruan seperti halnya pembelian peralatan praktikum, kompetisi teknologi antar SMK di Kabupaten Subang, maupun pengembangan sumber daya lainnya. Sekedar contoh CSR yang dikeluarkan oleh PTPN VIII Wilayah Subang dari Kebun Ciater, Kebun Tambaksari, Kebun Wangun Reja dan RS. PTPN II setiap tahun mencapai lebih dari Rp. 300.000.000,- (sumber: Laporan CSR PTPN. VIII Kebun Ciater, 2008)jumlah yang tidak sedikit untuk mengembangkan SDM yang pada akhirnya dapat kembali menunjang kegiatan industri di tingkat lokal.
Pengembangan BUMD berbasis industri pengolahan produk lokal, saat ini pemerintah daerah sudah waktunya mengembangkan unit usaha yang dapat men-generate income bagi keberlangsungan pembiayaan pembangunan. Strategi yang dikembangkan adalah membangun BUMD yang fokus terhadap pengolahan produk lokal yang paralel terhadap pengembangan Desa Mandiri Gotong Royong yang fokus terhadap pengembangan produk lokal, secara langsung BUMD akan dapat menyerap tenaga lulusan SMK karena mereka memiliki keahlian di bidangnya. Contoh sederhana kalau di Wilayah Pantura terdapat pabrik pengolahan ikan asin yang dapat menyerap produksi ikan tangkap nelayan di Blanakan, Mayangan maupun Patimban dan kegiatan ini dapat menyerap 20 tenaga SMK yang ahli dalam sektor tersebut paling tidak akan berdampak positif terhadap lulusan SMP atau Paket untuk melanjutkan sekolah ke SMK, dalam jangka pajang tidak ada lagi anak sekolah yang putus hingga SD dan lebih jauh terjadi pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat desa.
Gagasan di atas hanyalah pemikiran penulis dari sedikit pengalaman yang dilihat dan dipelajari selama tinggal di Jerman, semoga mimpi kecil ini dapat menyempurnakan mimpi Urang Subang lainnya demi kemajuan Kabupaten Subang…
Selamat Hari Pendidikan, hormat dan terima kasih Penulis kepada Para Orang Tua, Guru dan Pemimpin Bijaksana yang telah mendidik kita menjadi manusia yang berilmu…
Penulis: Roni Susman
Urang Subang tinggal di Berlin-Jerman
Email: roni.susman@yahoo.de