Home  |  Aspirasi  |  Layanan  |  Produk Hukum  |  Data Pejabat  |  Pusat Data   |  Kontak  |  Webmail  |  Ganti Password
www.subang.go.id
  Menu Utama  
  Pemerintahan  
  Potensi  
  Pariwisata  
  Informasi LPSE  
  Info Keuangan Daerah  
Informasi Lainnya
 
 
 
   
BERITA
 
 
 
Posting : 2012-04-09
66 Tahun TNI Angkatan Udara
 
(Lanud Suryadarma Kalijati Subang)
Segenap prajurit TNI Angkatan Udara, Senin (9/4) serentak mengadakan upacara memperingati hari jadinya yang ke 66. Peringatan di Jakarta dipusatkan di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan dimeriahkan dengan demo udara antara lain Demo Udara Tim Pegasus dari Skadron Udara 7 Pangkalan Udara Suryadarma. Tim demo udara menggunakan 6 pesawat EC 120 B Colibri. Pesawat 1 diawaki oleh Komandan Skadron Udara 7 Letkol Pnb Sapuan, S.Sos. dengan Copil Kapten Pnb Oktavianus Olga, pesawat 2 oleh mayor Pnb Tarmuji dengan Kapten pilot Lettu Pnb Wibowo, pesawat 3 diawaki oleh Mayor Pnb Anggit dengan copilnya Lettu Pnb Triwanto, Pesawat ke 4 oleh Kapten Pnb Lucky dengan copil Kapten Pnb Zen, Kemudian pesawat 5 diawaki oleh Mayor Pnb Yanwar dengan copil Lettu Pnb Rio, dan pesawat ke 6 diawaki oleh Mayor Pnb Aslam dengan copil Kapten Pnb Buana.

Di pangkalan Udara Suryadarma diadakan upacara memperingati HUT ke 66 TNI Angkatan Udara dengan Irup Kadisops Lanud Suryadarma Letkol Pnb Suliono. Peserta upacara diikuti personel Lanud Suryadarma, Wingdiktekkal dan Kompi B BS Paskhas.

Lintasan sejarah hingga tahun 2012 ini sebagai berikut :

Tanggal 9 April, 66 tahun yang lalu, melalui Penetapan Pemerintah Nomor : 6/SD/1946 dinyatakan berdirinya Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara. Bersamaan dengan itu juga ditetapkan Komodor Udara Suryadi Suryadarma sebagai Kepala Staf Angkatan Udara yang pertama. Tanggal tersebut kemudian setiap tahun diperingati sebagai hari Angkatan Udara.

Bila disimak jejak perjalanan TNI Angkatan Udara sebagai sebuah angkatan perang, memang terkesan unik. Berawal dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan menjadi TRI Angkatan Udara. Selain proses kelahirannya yang begitu singkat, yaitu sekitar tujuh bulan sejak Indonesia merdeka, alutsista yang dimiliki juga sangat sederhana. Waktu itu TNI Angkatan Udara hanya bermodalkan pesawat-pesawat bekas yang diperoleh dari rampasan tentara Jepang, seperti pesawat jenis Chureng, Nishikoreng, Guntei dan Hayabusha. Jumlah penerbang dan teknisinya pun sangat terbatas.

Dalam keterbatasan alutsista yang dimiliki waktu itu, TNI Angkatan Udara mampu menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Untuk pertama kalinya pesawat dengan identitas merah putih mengangkasa yang diterbangkan oleh Komodor Udara Agustinus Adisutjipto pada tanggal 27 Oktober 1945. Operasi Udara yang pertama kali dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 1947, yaitu merupakan serangan balas terhadap Agresi Militer Belanda I tanggal 21 Juli 1947, kemudian pada tanggal 17 Oktober 1947 dilaksanakan Operasi Lintas Udara di Kalimantan.

Sejarah juga mencatat tokoh-tokoh yang ikut membesarkan TNI Angkatan Udara pada periode awal pendiriannya antara lain, Suryadi Suryadarma, Abdulrachman Saleh, Agustinus Adisutjipto, Halim Perdanakusuma, Iswahjudi, Suharnoko Harbani, Mulyono, Sutardjo Sigit, dan H. M. Sudjono.

Pada dekade tahun 50-an TNI Angkatan Udara mulai diperkuat dengan pesawat-pesawat yang lebih modern seperti P-51 Mustang, B-25 Mitchel, B-26 Invander, C-47 2 Dakota, AT-16 Harvard, AT-6G Harvard, Piper Cub L-4J, Cessna L-19, Cessna 180, Albatros, Vampire Trainer DH-115, Piper Cub, Mark-2 Auster, PBY Catalina, IL-28 Ilyusin, Avia-14, Mig-15, Mig-17, Bell 47G-2 Trooper, MI-4, SM-1, IL-14 Avia (Dolok Martimbang), BT-13 Valiant, Hiller-360 Utility, Bell-47G. Pada dekade 50-an TNI Angkatan Udara juga mulai mendatangkan serta mengoperasikan Radar Nysa maupun Radar Decca. Dengan alutsista tersebut TNI Angkatan Udara ikut berperan dalam berbagai operasi keamanan dalam negeri, seperti penumpasan PRRI, Permesta, RMS, DI/TII serta berbagai gangguan keamanan dalam negeri lainnya. Dekade 60-an, TNI Angkatan Udara memasuki masa jayanya dan bahkan menjadi Angkatan Udara yang paling disegani di kawasan Asia Tenggara karena memiliki alutsista udara yang cukup besar dan handal baik yang berasal dari Eropa Barat maupun dari Eropa Timur. TNI AU pada dekade tersebut melakukan penambahan kekuatan dengan mendatangkan alutsista baik dari jenis yang sudah ada maupun jenis baru. Adapun alutsista tersebut diantaranya adalah Mig-19, Mig-21, AN-12 Antonov, C-130 Hercules, C-140 Jet Star, TU-16 Badger A, TU-16 KS-1 Badger B, Helikopter MI-4, MI-6, Bell-47J Ranger, Bell-204B Iroquis, S-58T Sikorsky, T-34A Mentor, L-29 Dholphin, Rudal SAM-75, Rudal KS, Radar Nysa, Radar Decca, serta Radar P-30. Kekuatan dan kemampuan alutsista yang dimiliki tersebut ikut menentukan keberhasilan Operasi Trikora untuk mengembalikan Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi. Demikian juga dalam Operasi Dwikora dan penumpasan pemberontakan PKI, TNI Angkatan Udara senantiasa ikut di dalamnya.

Awal dekade 70-an, kekuatan dan kemampuan TNI Angkatan Udara mengalami penurunan, namun pada pertengahan tahun 70-an secara bertahap Angkatan Udara mulai bangkit kembali. Masuknya beberapa alutsista seperti pesawat OV-10 Bronco, F-86 Sabre, T-33 Thunder Bird, Fokker F-27, T-34C Mentor Charlie, Helikopter Puma SA-330 yang serba guna, Helikopter Latih bell 47G Sioux, Bell-204B Iroquis, AT-16 Harvard, serta L-100-30 Hercules, merupakan angin segar setelah beberapa alutsista produk negara Timur mengalami kesulitan dalam pengadaan suku cadangnya.

Dekade 80-an, TNI Angkatan Udara memasuki era supersonik, dengan hadirnya pesawat tempur F-5 Tiger II, pesawat A-4 Sky Hawk dan pesawat latih jenis Hawk MK-53. Disamping pesawat tersebut TNI Angkatan Udara juga diperkuat oleh pesawat Boeing 3 737 yang mampu mengamati wilayah permukaan serta pesawat angkut ringan Cassa CN-212-200. Dengan datangnya pesawat Multirole F-16 Fighting Falcon pada akhir tahun 1989 menambah keperkasaan TNI Angkatan Udara. Kemampuan TNI Angkatan Udara makin meningkat dengan tambahan kemampuan pengamatan udara dan pengawasan dini dari radar Thomson dan Plessey. Demikian juga untuk membentuk penerbang-penerbang muda didatangkan pesawat AS 202/ 18 A Bravo sebagai pesawat latih mula.

Memasuki periode 1990-an kebutuhan akan alutsista yang lebih modern dibutuhkan TNI Angkatan Udara dalam rangka menjawab tantangan tugas yang diamanatkan Undang-Undang. Adapun pengadaan alutsista pada periode ini diantaranya melengkapi sepuluh pesawat F-16 Fighting Falcon yang sudah datang sebelumnya, CN-235, NAS 332 Super Puma, dan Radar Plessey AR 325. Pada dekade ini juga lahir sebuah Tim Aerobatik yang cukup melegenda, yaitu Tim Elang Biru, yang dapat disejajarkan dengan Tim Aerobatik kelas dunia. Demikian juga disusul beberapa tahun kemudian dengan Jupiter Aerobatic Team dengan pesawat Hawk MK-53. Armada udara TNI Angkatan Udara juga diperkuat oleh pesawat tempur jenis Hawk 100/200 yang ditempatkan di Skadron Udara 12 dan Skadron Udara 1.

Memasuki milenium ke III, TNI Angkatan Udara melengkapi teknologi Barat yang sudah ada dengan teknologi dari Timur, yaitu dengan hadirnya pesawat Sukhoi SU-27 dan SU-30 yang ditempatkan di Skadron Udara 11, serta pesawat latih dasar KT-1 Woong Bee dari Korea Selatan, Helikopter EC-120 B Colibri buatan Perancis, CN-235 -220 MPA buatan PT Dirgantara Indonesia. Kehadirannya semakin mewarnai angkasa Indonesia dan tentunya akan memperkuat pertahanan udara nasional dalam rangka menjaga kedaulatan negara Republik Indonesia di udara. Dengan alutsista yang dimilikinya, Angkatan Udara sejak awal berdirinya telah melaksanakan Operasi Militer Perang (OMP) dan juga Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Operasi bakti dan tugas-tugas kemanusiaan di dalam negeri dan luar negeri merupakan darma bhakti TNI AU dalam menyikapi kepedulian terhadap kesulitan yang dihadapi bangsa dan negara lain. Bencana alam gempa bumi dan tsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, gempa bumi dan tsunami di Sumatera Barat, banjir bandang di Wasior, bencana gunung merapi di Yogyakarta serta di Timor Leste, Pakistan, India, dan Philipina merupakan bukti nyata keikutsertaan TNI AU dalam OMSP.

Semua yang diupayakan dan diusahakan TNI Angkatan Udara, tidak lain adalah guna mewujudkan The First Class Air Force, sebuah angkatan udara yang handal dan mampu menghadapi setiap ancaman yang membahayakan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sesuai tugas yang diamanatkan dalam UU TNI Nomor 34 tahun 2004.
 (Pentak. Lanud Suryadarma, Kapten Sus Muslihudin)
 
 
Copyright © 2010 Pemerintah Kabupaten Subang - Diskominfo