Home  |  Aspirasi  |  Layanan  |  Produk Hukum  |  Data Pejabat  |  Pusat Data   |  Kontak  |  Webmail  |  Ganti Password
www.subang.go.id
  Menu Utama  
  Pemerintahan  
  Potensi  
  Pariwisata  
  Informasi LPSE  
  Info Keuangan Daerah  
Informasi Lainnya
 
 
   
Artikel
 
 
2011-11-30 09:36:05
 
Tambak Udang Cikaum Subang Hasilkan Miliarder
 
Oleh : Haji Mimin Herawan
 
Jatuh bangun dalam mengembangkan usaha tambak ikan hampir sepenuhnya dirasakan oleh para petambak di Kabupaten Subang. Ada yang merintis usaha tambak selama 10 tahun hingga kemudian menuai sukses. Ada juga yang sebenarnya bukan petambak, melainkan pedagang cabe, namun berkat kegigihannya nasib baik mengantarnya sebagai petambak dengan omzet miliaran.

Sebutlah Haji Mimin Herawan, pedagang cabe dari Desa Mandalawangi. Sebetulnya ia lebih dikenal sebagai pedagang ketimbang petambak udang. Maklum, usaha tambak yang dilakoninya terbilang baru. Ia dan keluarganya sebetulnya lebih piawai sebagai pedagang, namun kemalangan sempat menghampirinya hingga usaha dagangnya gagal.

Memasuki tahun 2002, Mimin Herawan memilih usaha tambak udang. Semula ia hanya coba-coba dan berbekal lahan sewaan. Dengan modal 25 juta yang diperoleh dari sisa tabungannya, mulailah Mimin Herawan menggeluti bisnis tersebut.

Mimin tercatat sebagai pengusaha tambak udang vaname di Kelompok Bangun Cipta Bahari Kampung Mandala Rt 03/03 Desa Mandalawangi, Kecamatan Cikaum, Subang. Ia sadar, bisnis tambak sangat baru buatnya sehingga kehadiran komunitasnya cukup membantu mengimbangi langkahnya merintis usaha.

Walhasil, usaha Mimin Herawan kini berbuah manis. Udang hasil tambaknya telah di pasarkan ke Jepang dan Eropa. Inipulalah yang mengantar Mimin sebagai petambak dengan omzet miliaran. Atau jelasnya, bisnis tambak Mimin sudah beromzet Rp 10 miliar pertahun.

"Alhamdulillah dengan kegigihan yang dijalani akhirnya berhasil dan tambaknya menjadi besar yang sekarang sudah mencapai 27 hektar. Tapi dari 27 hektar baru 12 hektar yang baru dimanfaatkan untuk tambak, itupun pada awalnya saya menyewa lahan kepada penduduk setelah beberapa tahun kemudian baru bisa saya beli,” katanya saat ditemui disela-sela kesibukannya, di Subang, Rabu (30/11).

Menjadi pengusaha tambak sukses seperti saat ini bukan tanpa hambatan dan tentu disertai pasang surut usaha. “Awal membuka lahan tambak saya sangat kesulitan mendapatkan modal, apalagi saat itu permintaan ke bank ditolak,” kenangnya.

Bahkan tantangan dan hambatan bisa saja datang setiap saat. Pria yang pada periode 2009-2014 tercatat sebagai anggota DPRD dari Partai Golkar itu, sempat mengalami kerugian besar hingga Rp800 juta karena lahan tambak miliknya disapu banjir besar pada 2006.

Untungnya kata dia, Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan saya pinjaman sebesar Rp 60 juta.

"Setelah peristiwa itu saya menyebutnya sebagai hidup kedua, kita memanfaatkan sisa-sisa udang dan modal yang ada. Saya mencoba bangkit lagi dan tetap optimistis," ujarnya.

Berkat kegigihan Mimin yang tanpa putus asa berjuang, kehidupan manis mulai bisa ia nikmati pada tahun 2009. Usaha kami mulai menemukan titik terang. Pesanan udang vaname mulai berdatangan dari beberapa kota besar termasuk dari mancanegara.

Lahan tambak yang semula dia sewa, kini sudah milik pribadi. Bahkan mengalami perluasan area lahan tambak hingga 20 hektare. Meskipun mengalami perluasan lahan tambak, namun diakui Mimin, pihaknya belum mampu mencukupi permintaan pasar.

"Idealnya 1 hektare bisa menghasilkan 100 ton udang, tapi sekarang baru 20 ton saja. Sehingga banyak permintaan yang belum terpenuhi," ujarnya.

Usahanya ini sudah menyerap sekitar 150 Kepala Keluarga (KK), dan pegawainya itu diambil dari masyarakat sekitar sehingga dapat mensejahterakan masyarakat sekitarnya, pekerjanya terbagi dua, ada yang pegawai tetap dan ada yang harian. Pegawai tetap digaji sebesar Rp 700.000 per bulan kalau yang harian sebesar Rp 40.000 per hari. Mereka yang bekerja tetap juga bisa mencicipi bonus tahunan.

Salah satu yang menjadi kunci kesuksesan Mimin dalam berbisnis adalah menanamkan rasa percaya dan sikap jujur kepada 10 karyawannya. Tidak itu saja, dia memperlakukan karyawannya sebagai partner sehingga mereka merasa memiliki.

Mimin menyebutkan, ada beberapa kendala dalam usahanya ini seperti akses jalan masuk yang menuju tambaknya masih rusak parah sehingga ada kesulitan bagi transportasi untuk mengangkut udang-udangnya ke pasar tujuan. Disamping itu jalan tersebut juga sangat penting bagi penduduk sekitar karena kebanyakan masyarakat sekitar juga bekerja sebagai petani.

Keberhasilan Kelompok petambak udang Bangun Cipta Bahari membuat kelompok itu menjadi laboratorium kunjungan sejumlah petambak komoditas jenis udang dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Medan, Makassar, dan dari Jabar sendiri. Kedatangan mereka untuk melihat proses atau konsep pemeliharaan udang hingga pemasaran.

Menurut Mimin, selain adanya kunjungan, mereka juga kerap menerima undangan sebagai pembicara dalam forum wirausaha. Seperti 9 Desember mendatang dia menjadi nara sumber pada salah satu acara stasiun televisi soal peningkatan produksi melalui program budi daya perikanan.

Tentu saja prestasi itu menjadi surprise bagi Mimin dan rekannya Bangun Cipta Bahari. Pasalnya, hingga saat ini dia belum percaya jika nasibnya seperti saat ini, apalagi secara akademik Mimin hanya mengenyam pendidikan hingga bangku SMA.

"Tentu saya bangga dengan kepercayaan itu. Karena pendidikan saja cuma sampai SMA, malah modal awal juga tak besar, tapi sekarang sudah beromzet miliaran rupiah," tuturnya. (Info Publik, Kominfo Jakarta)

Copyright © 2010 Pemerintah Kabupaten Subang - Diskominfo